Upaya Penurunan Angka Stunting, Dinkes Aceh Mengajak Semua Pihak Terlibat

BERITAACEH.co, Banda Aceh – Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat pada Tahun 2021, angka stunting di Aceh adalah 33,2 persen. Angka itu berada di posisi ketiga setelah Nusa Tenggara Timur (37,8 persen) dan Sulawesi Barat (33,8 persen), Kamis, (1/12/2022).

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Aceh, dr Sulasmi mengatakan, untuk wilayah Aceh, Kabupaten Gayo Lues menjadi penyumbang prevalensi stunting tertinggi (42,9 persen), disusul Kota Subulussalam (41,8 persen).

Sementara prevalensi stunting terendah ada di Kota Banda Aceh (23,4 persen) dan Kota Sabang (23,8 persen).

“Sementara prevalensi stunting di Indonesia berada di 24,4 persen, Aceh jauh di atas rata-rata nasional,” ujar

Sulasmi menjelaskan, stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa.

“Anak yang mengalami gizi kronis ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya,” paparnya.

Sulasmi mengingatkan, masalah ini tantangan besar bagi Aceh, untuk menurunkan prevalensi stunting harus dilakukan lintas sector.

“Ada dua intervensi yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting, yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitive,” jelasnya.

Sementara Dinas Kesehatan, hanya bisa melakukan dari segi intervensi spesifik dan hanya mampu mendongkrak 30 persen untuk menekan prevalensi anak stunting.

Kemudian intervensi gizi spesifik adalah kegiatan yang langsung mengatasi terjadinya stunting, di antaranya seperti asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit menular, dan kesehatan lingkungan.

“Kalau intervensi sensitif itu dilakukan di luar sektor kesehatan, seperti sektor pertanian, pendidikan, keluarga berencana, PUPR, perekonomian, dan lain-lain, bisa menekan stunting sampai 70 persen,” ujar dr Sulasmi.

Karenanya, Dinas Kesehatan Aceh mengajak semua pihak masyarakat, keluarga, dan lintas sektor di Aceh komitmen untuk pencegahan stunting.

“Jika ini kerja sama lintas sektor ini bisa terjalin dengan baik, masalah stunting di Aceh akan teratasi ke depannya,” tutup Sulasmi.

Angka prevalensi stunting Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan Myanmar (35 persen), tetapi masih lebih tinggi dari Vietnam (23 persen), Malaysia (17 persen), Thailand (16 persen), dan Singapura (4 persen). Saat ini, Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara dan keempat dunia dengan beban anak yang mengalami stunting.

Ini Langkah-langkah Yang Dilakukan Oleh Pemerintah Aceh

Pemerintah Aceh mengingatkan ke jajaran Pemerintah Kabupaten atau Kota, untuk melakukan percepatan penurunan stunting menjadi prioritas utama di daerah masing-masing. Pasalnya ada beberapa Kabupaten mendapatkan garis di zona merah.

Asisten Pemerintahan dan Keistimewaan Sekda Aceh M. Jafar, saat membuka acara Sosialisasi Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Angka Stunting di Indonesia (RAN PASTI).

Dalam kegiatan yang berlangsung di Banda Aceh itu, M Jafar menyebutkan, berdasarkan hasil Studi Kasus Gizi Indonesia Tahun 2021, angka stunting Aceh disebut berjumlah 33,18 persen. Angka stunting tertinggi ada di Kabupaten Gayo Lues 42,9 persen, Kota Subulussalam, 41,8 persen, dan Kabupaten Bener Meriah 40,0 persen.

“Jika melihat dari ambang batas toleransi yang direkomendasi oleh WHO tentang jumlah stunting, yaitu hanya 20 persen, maka tidak ada satupun Kabupaten/Kota di Aceh yang berada di bawah 20 persen. Termasuk Kota Banda Aceh yang terbaik, namun masih pada angka 23,4 persen, Kota Sabang 23,8 persen, dan Kabupaten Bireun 24,3 persen,” ujar M Jafar.

Masalah stunting, kata M Jafar, merupakan salah satu persoalan serius yang dihadapi di negeri ini. Stunting disebut kerap timbul, salah satunya karena dipicu oleh sikap masyarakat yang kurang memperhatikan pola hidup sehat.

Hal itu diakui sangat memprihatinkan. Jika tidak ditangani sejak dini, daya saing generasi muda Aceh disebut akan rendah, sebab stunting tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan anak, tapi dalam jangka pendek, juga mempengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, dan fisik.

Sedangkan dalam jangka panjang, stunting disebut berisiko menurunkan kekebalan tubuh, memicu munculnya penyakit metabolik, risiko terpapar penyakit jantung dan pembuluh darah, serta menurunkan kemampuan kognitif otak anak.

M jafar mengatakan, angka stunting di Aceh memang menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Namun jumlah kasusnya tetap masih tergolong tinggi, sehingga upaya penanggulangannya harus lebih ditingkatkan lagi.

Lebih lanjut, M Jafar menyebut, Presiden RI telah memberikan target yang harus dicapai pada Tahun 2024, agar Indonesia mencapai pada angka 14 persen.

“Hal ini menjadi tugas kita di Aceh agar bisa menurunkan stunting sebesar 19% dalam waktu 3 tahun,” katanya.

Terkait target itu, M Jafar menegaskan bahwa komitmen para Bupati Walikota sangatlah penting, karena dengan komitmen yang kuat dari kepala daerah dalam menurunkan stunting, akan mempengaruhi prioritas daerah dalam menggunakan semua sumber daya yang ada untuk difokuskan pada isu-isu komitmen yang telah dibangun.

“Saya berharap kepada Bupati dan Walikota di Aceh untuk memastikan percepatan penurunan stunting ini menjadi prioritas utama di daerahnya, didukung dengan sumber daya yang mencukupi dan dipastikan bahwa setiap intervensi yang diperlukan sampai pada keluarga yang dikategorikan berisiko stunting (tepat sasaran). Pastikan setiap sumber daya yang dilakukan dan dikeluarkan itu benar-benar mempunyai output yang besar dalam menurunkan angka stunting di Aceh,” kata M Jafar.

Sementara itu, dalam rangka penanganan kasus stunting di Aceh, telah diterbitkan Peraturan Gubernur Nomor 14 tahun 2019 tentang Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi. Penanganan itu bersifat komprehensif, serta diselaraskan pula dengan Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Dalam praktiknya, selain melibatkan peran aktif PKK di semua daerah, pemerintah Aceh juga bekerjasama dengan berbagai organisasi masyarakat dalam menjalankan sosialisasi program pengasuhan anak terintegrasi. (ADV)

 

 

 

 

Berita Terbaru

Bagaimana Cara Download Whatsapp Aero Apk Mod di Android

BERITAACEH.co,- Apakah kalian semuanya sudah pada mengetahui bahwasannya ada salah satu tool sederhana yang mampu berkirim-kiri pesan pendek dalam...

Kebakaran di Peunayong, Pj Wali Kota Apresiasi Gerak Cepat Petugas Damkar

BERITAACEH.co | Banda Aceh,– Pj Wali Kota Banda Aceh Bakri Siddiq ikut memantau langsung proses pemadaman api yang membakar...

Rapat Paripurna Tentang Usulan PAW Wakil Ketua II DPRK Aceh Selatan Dinilai Cacat Hukum

BERITAACEH.co | Aceh Selatan,- Rapat paripurna tentang usulan pemberhentian Wakil Ketua II DPRK Aceh Selatan sisa masa jabatan 2019-2024...

Liga 2 Indonesia Dihentikan, Izin Pakai Stadion Dimurthala Dicabut

BERITAACEH.co | Banda Aceh,- Persiraja Banda Aceh kini tidak memiliki stadion kandang lagi. karena Pemerintah Kota Banda Aceh mencabut...
- Advertisement -spot_imgspot_img

Car Free Day Banda Aceh Kembali Digelar Pekan Ini

BERITAACEH.co, | Banda Aceh – Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di Banda Aceh kembali digelar...

Gunakan Beberapa Aplikasi Internet Gratis Terbaik Saat Ini

BERITAACEH.co,- Aplikasi internet gratis. Siapa sih yang gak suka gratisan, pasti semuanya mau dong. Mimin aja mau kalo dikasih...

Berita Daerah

Kebakaran di Peunayong, Pj Wali Kota Apresiasi Gerak Cepat Petugas Damkar

BERITAACEH.co | Banda Aceh,– Pj Wali Kota Banda Aceh...

Rapat Paripurna Tentang Usulan PAW Wakil Ketua II DPRK Aceh Selatan Dinilai Cacat Hukum

BERITAACEH.co | Aceh Selatan,- Rapat paripurna tentang usulan pemberhentian...

Berita Pemerintahan
Pariwara