29 November 2022

Siswa SMA Se Aceh dan Sumut Mengikuti Acara Prosesi Peucicap Hingga Turun Tanah Bayi

Terbaru

BERITAACEH | Sejumlah Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) perwakilan se Aceh dan Sumatera Utara, mengikuti acara tradisi peucicap hingga turun tanah bayi yang diselengarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB)  Provinsi Aceh dan  Sumatra Utara, di desa ALue Ie Mirah, Kecamatan Nibong Aceh Utara.

“Kegiatan jejak tradisi dan ekspresi budaya praktek local, untuk meningkatkan budi pekerti dan karakter, yang diikuti 70 orang siswa SMA di Provinsi Aceh dan Sumatra Utara,” kata Irini Dewi Wanti, SS., M.SP, Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud, Rabu, 7 April 2021.

Tradisi ini, sebagai kebudayaan manusia merawat, mendidik, berperilaku terhadap anak, tak terkecuali pada masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh memiliki adat istiadatnya sendiri dalam menyambut anak. Hal itu bernama Peutron Aneuk. Secara harfiah, Peutron Aneuk berarti anak turun ke tanah yang disambut oleh masyarakat sekitar.

“Walaupun ada sedikit perbedaan dalam pelaksanaannya di berbagai daerah di Aceh, namun konsep upacaranya tetapah sama,” katanya.

Banyak daerah melaksanakannya 44 hari setelah kelahiran bayi, tetapi ada juga 7 hari paska kelahiran. Mengundang kerabat terdekat, tokoh adat dan pemuka agama serta masyarakat pada hari upacara.

“Mempersiapkan bahan-bahan peusijuk atau tepung tawar seperti, nasi ketan, oen seneujuknaleung sambo, beras yang diwarnai, bedak, minyak kayu putih, atau satu set perlengkapan mandi bayi dan air,” paparnya.

Adapun bahan-bahan acara berupa  kain, sebutir kelapa, madu, pulut kuning, tampi, sapu, parang, cangkul, tangga dan gunting.

“Peucicap adalah saat dimana ketua adat menyulangkan tetesan sari buah ke mulut bayi. Dilakukan sebanyak dua sampai tujuh kali. Ini dilakukan untuk memancing agar bayi membuka mulutnya. Bermakna agar kelak bayi mengenal berbagai rasa,” jelasnya.

Adapun suleung bulekat yaitu sari buah inti dihancurkan oleh ketua adat yang kemudian disulangkan ke mulut bayi.

“Bermakna agar jiwa raga bayi tetap berada dalam lingkungan keluarga atau kelompok masyarakat nya,” papar Irini.

Sementara balek hatee yaitu saat ketua adat mengambil hati ayam lalu diletakkan diatas dada bayi dengan keadaan hati ayam di tentangkan. Kemudian dibolak-balikkan di atas dada bayi sebanyak tujuh kali.

“Ini bermakna agar kelak bayi menyatu. Dan sejalan antara hati dan pemikirannya,” urainya.

Sementara balek boh manok, dada ayam diganti dengan telus ayam. Telur dibolak-balik sebanyak tujuh kali.

“Bermakna yaitu ketika kelak bayi tidak memutar balikkan fakta dan selalu berkata jujur,” urainya lagi,

Selain itu, pencerminan. Ketua adat mengambil tangan bayi dan memegangkan cermin. Cermin diarahkan ke wajah bayi.

“Bermakna agar kelak bayi cepat menangkap ilmu pengetahuan yang diajarkan,” tambahnya lagi.

Baca kitab. Seperti dengan pencerminan, bayi dibantu memegangkan kitab Al-Qur’an dan membuka lembarannya perlahan-lahan.

“Bermakna agar kelak bayi dapat membaca Al-Qur’an dengan baik, agar kuat iman, dan Taat kepada Allah,” sambung Irini.

Adapun Pesijuek. Di tahap ini satu ikatan dedaunan di celupkan ke dalam tepung tawar yang telah di campur air lalu di percikkan ke tubuh bayi mulai dari kaki hingga kepala. Selanjutnya proses memutar beras. Bangkok yang berisi beras dan sebutir telur di putarkan ke atas dada bayi.

“Bermakna agar bayi dapat bersahabat dengan siapapun dan selalu terjalin hubungan yang harmonis dan terbina, dapat mengambil keputusan dengan kepala dingin,” urai Irini.

Sementara Peulingka ka’bah. Ketua adat menggendong bayi dan dibawa mengitari undangan yang duduk melingkar. Setiap tamu yang dilewati mengusap kepala bayi.

“Bermakna agar bayi kelak mengikuti jejak nabi Muhammad yang dibawa keliling ka’bah oleh Abdul Muthaleb ketika beliau masih bayi,” cetusnya.

Kemudiann, Troen u tanoeh. Ketua adat membawa bayi keluar rumah yang diikuti undangan. Kemudian bayi diturunkan, menginjak abu kapur di atas tanah.

“Bermakna agar bayi mengenal dengan lingkungan sekitar dan mensyaratkan agar bayi kelak bayi memiliki pendirian teguh dan iman yang kekal, seperti sifat tanah yang kekal,”pintanya.

Adapun prosesi Plahboh U. Ketua adat membelah buah kelapa di atas daun pisang. Posisi bayi berada di bawah kain batik yang telah disediakan, kain itu dihentang sebelah diatas kepala bayi, kemudian kedua sisinya dipegang dua orang. Setelah dibelah, air buah kelapa dituangkan dipermukaan tanah secara memutar dan perlahan-lahan. Sesudahnya belahan kelapa di buang ke arah kiri dan kanan.

“Bermakna agar kelak bayi pemberani, tidak mudah terkejut dengan semua suara yang ia dengar,” jelasnya lagi.

Sementara prosesi Pesijuek ibu bayi. Dilakukan dengan menggunakan dedaunan yang dicelupkan ke dalam tepung tawar yang dicamput sedikir air. Lalu di percikkan ke ibu bayi yang sedang dipayungi dan dilanjutkan ke ayunan yang di gunakan untuk menidurkan bayi.

“Bermakna makna agar ibu bayi sejahtera dan sebagai rasa syukur karena telah diberi keselamatan oleh Allah SWT pada saat melahirkan,” kata Irini.

Kemudian prosesi Peu’eh lam ayon. Pada proses ini bayi ditidurkan sambil diayun dan di bacakan shalawat oleh seluruh masyarakat yang mengikuti upacara.

“Bermakna agar ketika bayi besar nanti akan rajin membaca shalawat kepada nabi Muhammad SAW,” tambahnya.

Peutamong u romoh. Ketua adat menggendong bayi dan memasukkannya kembali ke rumah sambil mengucapkan salam dan salam tersebut disambut dengan masyarakat yang berada di dalam rumah.

“Bermakna yaitu ketika besar nanti bayi akan terbiasa mengucapkan salam pada saat masuk ke rumah,” ulasnya.

Pembacaan doa merupakan akhir dari seluruh prosesi peutron aneuk. Ketua adat mendoakan anak keselamatan, kesejahteraan dan kemuliaan.

“Makna agar bayi selamat di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.

Dia menyebutkan, Siswa berkunjung langsung ke desa yang masih melestarikan tradisi budaya di Aceh Utara, dan dalam kesempatan ini desa Alue ie Mirah Kecamatan Nibong kabupaten Aceh utara menjadi tujuan praktek dan menyaksikan langsung tradisi budaya, alasan dipilihnya desa Alue ie Mirah  karena desa ini pada tahun 2019 telah di catat oleh Kemendikbud sebagai salah satu desa dari 8 desa berhulu kebudayaan di Indonesia, Dan sempat mewakili Provinsi Aceh mempromosikan tradisi budayanya di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) pertama di Istora Senayan, Jakarta.

Sementara Geuchik Alue Ie Mirah Muktaruddin mengatakan Jejak Tradisi Daerah merupakan sebuah kegiatan yang di selenggarakan oleh BNPB Aceh dan Sumatera yang bertujuan untuk  Memperkenalkan kekayaan budaya bangsa kepada generasi muda,

“Menumbuhkan pemahaman generasi muda tentang keanekaragaman budaya bangsa yang satu dengan lainnya mempunyai ke khasan dan keunikan tersendiri, serta menumbuhkan sikap saling menghargai antara pendukung budaya yang satu dan lainnya,” tegas Muktaruddin.

DomaiNesia
Headline

Tim Berpengalaman Diturunkan, Satpol PP-WH Aceh Jaya Berhasil Tangkap 27 Ternak

BERITAACEH.co, Calang - Sejak melakukan penertiban dan penangkapan hewan ternak selama tiga hari di Kecamatan Krueng Sabee, Satuan Polisi...
DomaiNesia

Sebelumnya

www.domainesia.com