10 Desember 2022

Polda Aceh Bongkar Sindikat Trafficking Etnis Rohingya Melibat WNI Asal Aceh

Terbaru

BERITAACEH | Kepolisian Daerah (Polda) Aceh, berhasil membongkar sindikat Perdagangan Manusia (Trafficking) Etnis Rohingya asal Myammar,  yang melibatkan Warga Negara Indonesia (WNI) asal Aceh, dan Warga Negara asing (WNA) asal Myammar.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Aceh Kombes Pol. Sony Sonjaya, S. I. K mengungkapakan, penangkapan sindikat Trafficking Etnis Rohingya asal Myammar berawal, Rabu, 24 Juni 2020 lalu, kapal yang mengangkut 99 Rohingya, di lepas pantai Seunuddon, Aceh Utara, mengalami rusak, kemudian ditarik ke darat oleh Kapal Nelayan, kemudian dipindah ke Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu.

“Kapal tersebut merupakan hendak menyeludupkan 99 Rohingya ke Indonesia. Namun mesin rusak ditengah laut. Akhirnya ditarik Nelayan ke darat,” katanya Kombes Pol. Sony Sonjaya, di damping Kabig Humas Kombes Pol, Ery Apriyono, Selasa, 27 Oktober 2020.

Dia menyebut, sindikat Trafficking Etnis Rohingya asal Myammar melibatkan SB (42), AS (37) WNA asal Myammar dan FA (47), R (32) dan Warga Negara Indonesia (WNI) asal Aceh.

“SB, SA, Etnis Rohingya Myammar menetap di Camp penampungan Imigran di Medan Sumatra Utara (Sumut), jelasnya.

Sebelum melakukan penjemputan ditangah laut, AJ dan AR, menawarkan pekerjaan kepada FA, di desa Idi Aceh Timur. Selanjunya FA membawa AS, juga dihadirkan SB, untuk menjemput WNA Etnis Rohingya ditengah laut menyewakan Kapal. Sedangkan titik koordinat diberikan oleh FA melalui pesan singkat (SMS).

“Sebelum dijemput WNA, FA dan AS, menyewakan Kapal serta dua Anak Buah Kapal (ABK), di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Seunuddon Aceh Utara. Sebelum berangkat, AJ, AR dan SB sempat mengajak FA untuk membeli rokok, untuk menjemput WNA menuju kapal besar diberikan koordinat oleh AR kepada FA melalui SMS, rokok itu sebagai kata sandi,” paparnya.

Hasil penyelidikan terungkap keterlibatan para pelaku, FA dan R menyerahkan diri, sedangkan pelaku SB dan AS warga Rohingya ditangkap di Medan, Sumatera Utara pada 22 Oktober 2020.

“Dari pengakuan FA, ia baru menerima pembayaran sebesar Rp 10 juta dari AR (DPO) untuk menjemput warga Rohingya yang saat ini ditampung di gedung BLK Lhoksemawe. Kita masih lakukan penyelidikan total uang yang diterima pelaku untuk menyelundupkan warga Rohingya itu,” ujarnya.

Barang bukti yang diamankan petugas berupa dua unit Hendphon, GPS MAP-585 warna hitam merk Garmin Made in Taiwan, Kapal penangkapan ikan nomor KM Nelayan 2017-811 (10 GT).

“Kapal telah dipinjam pakai oleh Ketua Koperasi dan Surat sewa menyewa kapal dari Koperasi Samudra Indah Aceh Utara,” jelasnya.

Para pelaku dijerat dengan Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian dengan ancaman paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar.

“Karena mereka telah memasukkan orang asing ke wilayah Indonesia tanpa dokumen resmi kita jerat dengan pasal 120 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 6 Tahun 2011 tentang keimigrasian,” ungkap Kombes Pol Sony Sanjaya.

 

 

DomaiNesia
Headline

Sengketa Tanah Ulayat Masyarakat Dengan PT SBA Lhoknga Terabaikan, Pemkab Aceh Besar Buang Badan

BERITAACEH.co, Aceh Besar | Masyarakat Kecamatan Lhoknga Aceh Besar, mempertanyakan terkait sengketa tanah ulayat dan Tanah Masyarakat Lhoknga, dengan...
DomaiNesia

Sebelumnya

www.domainesia.com