Wabup Insyafuddin Mengapresasi Inovasi Kelompok Usaha Kreasi Ibu-ibu

  • Bagikan

BERITAACEH.CO, Kualasimpang | Pada petemuan dengan Kelompok Wanita Tani (KWT), Rabu (25/5/2022) di aula SKB Karang Baru. Wakil Bupati, Tengku Insyafuddin, ST mengatakan KWT berperan penting dalam penanggulangan stunting.

“Warga kita mestinya dibiasakan kembali menanam sayuran di pekarangan rumah sendiri. Jadi bahan pangannya lebih sehat, karena hasil sendiri. Ibu-ibu KWT harus jadi motor untuk ini,” ujar Wabup.

Wabup mengatakan, Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPP) yang punya program pemberdayaan pekarangan mesti mengoptimasi peran serta KWT untuk menjadi motor pemberdayaan pekarangan, guna pemenuhan gizi keluarga.

“Lakukan kerja sama, selain dengan penyuluh pertanian ada TP-PKK, dan semua unsur yang ada di kampung, supaya bisa lebih optimal,” cakapnya.

Wabup Insyafuddin menyampaikan, kebiasaan sebagian masyarakat di Indonesia yang gemar menyantap sayuran mentah dan segar, terutama di Pulau Jawa, yang memiliki manfaat bagi kesehatan.

“Kita lihat di Pulau Jawa, sebagian besar masyarakat di sana suka sekali makan lalapan berupa sayuran segar, seperti daun kemangi, daun Kelor, mentimun, dan terong. Nah, itu sayurannya berasal dari halaman sendiri, dan biasanya dirawat secara organik. Kalau mau makan, tinggal petik dan cuci saja. Jadi sayurannya lebih sehat, dan berdampak pada kesehatan juga,” terang Wabup bersemangat.

Lebih lanjut Wabup mengharapkan, mengonsumsi makanan sehat bisa menjadi gaya hidup masyarakat. Ia menambahkan, kalau hal ini terwujud, selain bisa meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan, namun juga mampu menekan hadirnya kasus stunting di Aceh Tamiang.

“Makanan sehat ‘kan tak mesti mahal, sebagiannya bisa kita produksi sendiri dari pekarangan rumah, seperti sayuran tadi,” tuturnya melanjutkan.

Dalam kesempatan tersebut, Wabup Insyafuddin mengapresasi inovasi Kelompok Usaha Kreasi Ibu-ibu Kreatif (Kusibuk) Kampung Durian, Rantau, yang berhasil mengembangkan pemanfaatan daun Kelor guna pencegahan stunting atau Pelor Chating. Ditegaskan Wabup, dirinya meyakini kalau semua pihak ambil bagian untuk terlibat aktif, penanggulangan stunting pasti berhasil di Aceh Tamiang.

“Penanganan dan penurunan stunting adalah agenda prioritas nasional dan daerah. Mari kita bekerja sama dan sama-sama bekerja untuk itu,” pungkas Wabup.

Berdasarkan data hasil Studi Status Gizi Indonesia (SGGI) tahun 2021, prevalensi stunting Kabupaten Aceh Tamiang masih mencapai 30,8%. sedangkan menurut WHO, batasan prevalensi stunting suatu wilayah adalah sebesar 20%.

Secara umum, strategi penanggulangan stunting menetapkan lima pilar pencegahan, yakni; Komitmen dan visi kepemimpinan; Kampanye nasional dan komunikasi perubahan; Konvergensi, koordinasi dan konsolidasi program pusat, daerah dan desa; Ketahanan pangan dan gizi; serta Pemantauan dan evaluasi. Kabupaten Aceh Tamiang sendiri menjadikan penanggulangan stunting sebagai target Rencana Pembangunan Daerah tahun 2023-2026.

Usai dibuka, kegiatan rembuk dilanjutkan dengan paparan materi yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan, Abdul Aziz, dan Kepala Bappeda, Tri Kurnia. Keduanya menyampaikan paparan tentang jabaran strategi yang sudah dan mesti dilaksanakan guna penanganan dan penurunan angka stunting di Bumi Muda Sedia.

  • Bagikan