Cagar Budaya Indra Patra, Benteng Kokoh Peninggalan Kerajaan Hindu di Aceh

  • Bagikan

BERITAACEH.co, Aceh Besar | Kerajaan Indra parta atau sekarang lebih dikenal dengan benteng indra patra di bangun oleh putra raja harsya dari india pada abad ke enam masehi atau tepatnya pada tahun 604 Masehi,Indra patra merupakan kerajaan pertama sebelum indra purwa dan indra puri.

Kerajaan indra patra pada fase dan masa kejayaan islam di aceh juga di gunakan sebagai gudang senjata dan pusat pertahanan kerajaan aceh darussalam dan peran serta kejayaan benteng indra patra ini berlangsung sampai masa islam di aceh,dimasa iskandar muda, benteng ini memiliki keunikan pada arsitektur bangunannya. Bangunan yang pertama di tengah-tengah dari bangunan lainnya dengan ukuran yang besar. Dalam bangunan ini terdapat tiga buah sumur yang bertutup dengan baru tembok yang menyerupai stupa.

Benteng indra patra mempunyai letak yang begitu sangat strategis, yaitu dengan berhadapan langsung dengan selat malaka atau lebih tepatnya terletak di bibir hamparan laut teluk krueng raya, karena letaknya yang begitu strategis dahulunya para penyerang dari arah laut akan bersusah payah untuk menakluki daerah ini, selain itu benteng indra patra juga memiliki beberapa kamar atau seperti kubah tempat penyimpana senjata pada masa kesultanan raja iskandar muda, serta juga terdapat beberapa lubang di arah depan bangunan benteng sebagai tempat penempatan meriam untuk menghadang para penjajah.

Liburan ke Aceh, tak hanya ada objek wisata religi bernuansa Islam saja yang menarik di kunjungi. Tapi ada situs Benteng Indra Patra, peninggalan Kerajaan Lamuri. Kerajaan ini adalah kerajaan Hindu pertama di Aceh.

Melewati jalan ke arah sana, bisa dikatakan jalur sejarah karena di sepanjang jalur tersebar beberapa tempat yang memiliki nilai-nilai sejarah, diantaranya bukit makam kuno Kerajaan Lamuri, tugu pendaratan armada Jepang pertama kali di Aceh, Benteng Iskandar Muda, Makam Laksamana Keumalahayati, dan Benteng Inong Balee.

Benteng Indra Patra menurut catatan sejarah dibangun pada abad ke-VII Masehi oleh Putra Raha Harsa yang berkuasa di India. Keberadaan Benteng Indra Patra sangat dekat dengan laut lepas.

Kerajaan Lamuri mendirikan benteng ini untuk membentengi wilayah-wilayahnya dari ledakan meriam kapal Portugis yang datang dari arah Selat Malaka. Wilayah kekuasaan Kesultanan Lamuri mencakup daerah yang sekarang masuk sebagai wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar. Ketika itu pun benteng ini juga dipakai sebagai tempat ibadah umat Hindu di Aceh.

Benteng ini terdiri dari sebuah benteng utama yang berukuran 4900 meter persegi, dan tiga benteng lainnya. Tapi dua diantaranya telah hancur ketika tsunami Aceh. Konstruksi benteng tersebut disusun dari bongkahan-bongkahan batu gunung. Setelah itu, batu-batu gunung direkatkan dengan campuran kapur, tumbukan kulit kerang, tanah liat, dan putih telur.

Di dalam benteng utama terdapat dua stupa dengan kubah di atasnya, di masing-masing stupa memiliki sumur. Air di dalam sumur itu digunakan oleh umat Hindu untuk mensucikan diri ketika akan melaksanakan ritual ibadah.

Keberadaan Benteng Indra Patra menjadi bukti peninggalan sejarah tentang pengaruh agama Hindu dari India menyebar ke daerah Pesisir Utara Aceh Besar. Selain itu, Benteng tersebut merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah kerajaan Hindu di Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri, dan Indra Purwa.

Tak jauh dari benteng utama, terdapat juga bangunan benteng pertahanan. Di setiap sisi dinding benteng di lubangi.

Lubang-lubang itu berfungsi sebagai lubang pengintai musuh dan tempat meletakkan moncong meriam. Selain itu juga terdapat banker untuk menyimpan meriam-meriam, dan peluru.

Benteng Indra Patra kelihatan sangat kokoh dengan memiliki ketebalan dinding sekitar dua meter, dan memiliki ketinggi sekitar empat sampai dengan lima meter.

Ketika anda akan sampai ke situ untuk melihat kemegahan Benteng Indra Patra, ada beberapa masyarakat yang bertugas menjaga objek wisata Benteng Indra Patra menyodorkan tiket di jalan masuk menuju ke benteng, dan anda pun cukup membayar Rp 5.000 untuk mengantongin tiket masuk. (ADV/Disbudpar Aceh)

  • Bagikan