Pasutri Pembuang Bayi Ditangkap, Pelaku Mengakui Hanya Menutupi Rahasia Kepada Orang Tua

  • Bagikan

BERITAACEH.co, Banda Aceh | Polisi berhasil mengusut pelaku pembuang bayi di Desa Lam Paseh, Kecamatan Meuraxasa, Kota Banda Aceh. Tersangka tak lain adalah pasangan suami istri, kini mendekam dihotel predeo.

Kedua tersasangka adalah AS (24) dan SY (21) merupakan pasangan suami istri (pasutri) yang sudah menikah siri sejak 2019 silam. Namun setelah melahirkan, SY menutupi ke pihak keluarga, lantas telah menikah dengan AS, tanpa pengetahuan keluarga.

“SY (21) yang diamankan di Kecamatan Meureudue, Kabupaten Pidie Jaya, sedangkan AS, salah seorang warga Aceh Besar kini ditetapkan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO),” katanya, Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Krisdiyanto, SIK melalui Kasatreskrim Kompol M Ryan Citra Yudha, SIK, Sabtu, (8/1/2022).

Bayi yang memiliki bobot 4,43 kilogram dengan Panjang 52 centimeter, pada saat bayi diisikan dalam kardus, lengkap dengan perlengkapan bayi, kemudian diletakkan didepan rumah Saiful.

“Kami berhasil mengamankan ibu sang bayi berisinial SY (21), seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Banda Aceh pada saat itu. Dari keterangan SY, ianya tidak sendiri saat meletakkan bayi tersebut, dan turut dibantu oleh teman prianya berinisial AS (24), asal Aceh Besar yang tak lain suaminya,” sambung Kasatreskrim.

Menurut keterangan tersangka SY, keduanya telah menikah siri pada tahun 2019 silam. Dari pernikahan tersebut, mereka lahirlah bayi laki – laki yang saat ini berusia 1,5 tahun yang kini diasuh oleh orang tua AS.

“Sebelum lahirnya bayi yang diletakkan dalam kardus, kedua belah pihak keluarga sudah membicarakan agar saat ini jangan terlalu dekat dulu karena dikhawatirkan akan terulang kembali sebelum dilangsungkan pernikahan secara resmi,” jelas Kasat Reskrim, mengutip keterangan tersangka.

Cerita Kasat, hal tersebut belum sempat dilakukan oleh keluarga AS dengan alasan belum memiliki biaya, tambah Kasatreskrim.

“Tanpa diketahui oleh kedua belah pihak keluarga, SY kembali hamil mengandung anak kedua pada bulan Januari 2021.

Namun, kehamilannya sempat ditutupi agar pihak keluarga tidak mengetahuinya sampai lahirnya bayi perempuan itu pada tanggal 18 November 2021.

“Saat itu bayi dirawat oleh SY dan AS di sebuah rumah kos di Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh selama 24 hari,” kata Kompol Ryan lagi.

Kompol Ryan menambahkan, pada tanggal 12 Desember 2021, SY mendapat kabar bahwasannya salah satu keluarganya meninggal dunia di Pidie Jaya, sehingga ia harus ke Pidie Jaya dengan menitipkan bayi pada seorang pengasuh di Banda Aceh dengan memberikan upah bulanan serta perlengkapan bayi.

Beberapa hari kemudian, orang tua dari AS mengetahui bahwa SY telah memiliki anak lagi dengan kekecewaan itu, SY sempat dimarahin oleh nenek sang bayi.

Namun sang nenek juga memberikan solusi agar anaknya itu dirawat sampai besar. Tetapi saran tersebut ditolak oleh SY karena takut diketahui oleh orang tuanya bahwa ia telah memiliki anak lagi, sebelumnya SY sudah sering dinasehati untuk tidak dekat dahulu dengan AS yang dikhawatirkan akan hamil lagi, sebut Kompol Ryan.

“Karena sudah panik dan bingung, SY dan AS menjemput kembali anaknya dari pengasuh dan dibawa keliling dalam kota Banda Aceh dengan menggunakan mobil Avanza yang telah direntalnya dengan niat bayi tersebut akan dititipkan pada pengasuh yang tepat,” sambung Kasatreskrim lagi.

Kompol Ryan menuturkan, mereka akhirnya memutuskan untuk meletakkan bayinya dirumah Saiful dikawasan Lampaseh Aceh, yang mana rumah tersebut adalah rumah familynya dengan harapan lebih tenang dan dapat melihat tumbuh kembangnya bayi tersebut sampai beranjak dewasa. Namun ternyata kejadiannya justru jauh dari harapan kedua orang tuanya tersebut.

“Untuk motif yang dilakukan tersebut, takut diketahui oleh pihak keluarga SY tentang ianya telah memiliki anak lagi, kata Kasatreskrim,” ungkpanya.

Kasatreskrim juga menjelaskan bahwa ada kemungkinan upaya restorative justice akan ditempuh dalam kasus ini, mengingat perbuatan yang dilakukan tidak benar – benar ingin membuang anak, melainkan menaruh atau meletakkan ditempat yang salah satunya merupakan keluarganya dengan cara yang salah, akan tetapi dengan harapan dapat dirawat dengan baik.

“Selain itu, pelaku masih memiliki dua anak yang masih balita dan masih membutuhkan ASI serta kasih sayang orang tuanya,” jelasnya.

Namun demikian, dalam perkara ini mereka terjerat dengan Pasal 305 KUHP Subs Pasal 77b Jo Pasal 76b UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman lima tahun enam bulan penjara, pungkas Kompol Ryan.

  • Bagikan