Ini Kata Cek Mad: Terkait Istri di Aceh Utara Ramai-Ramai Gugat Cerai

  • Bagikan

BERITAACEH.co, Aceh Utara – Bupati Aceh Utara H Muhammad Thaib alias Cek Mad, memperihatinkan terkait gugat cerai pasangan suami istri  (Pasutri) terus meningkat.

Menurut Cek Mad, persoalan sedang dilema rumah tangga Pasutri itu disebabkan, keduanya tidak taat kepada Allah.

“Coba Pasutri taat dan bersyukur kepada Allah, pasti rumah tangga aman. Kunci keberhasilan menahkodai rumah tangga itu hanya medekati kepada Allah,” kata Cek Mad, Selasa, (7/9/2021).

Tambah Cek Mad, keberhasilan menahkodai rumah tangga itu membutuhkan kesabaran, kemudian membutuhkan ilmu agama, dan pengatahuan yang luas, sehingg tidak mudah terkontaminasi hal-hal negatif.

“Coba lihat sekarang, gara-gara Medsos rumah tangga hancur. Ada juga Pasutri praduga negatif, sehingga kepercayaan rumah tangga itu retak,” jelas Cek Mad.

Keruntuhan rumah tangga tidak dikaitkan dengan ekonomi. Adapula Suami atau istri tidak bertanggung jawab antara hak dan kewajiban.

“Gugat cerai karena ekonomi tidak mungkin. Pasti ada persoalan lain, karena kebahagiaan itu tak semua dengan uang,” jelasnya, Cek Mad.

Cek Mad mencontohkan, pihak suami atau istri tidak mengatahui kebutuhan hidup. Adapula suami sibuk main Game, malas bekerja, akhlak tidak baik, faktor selingkuh, terlibat narkoba.

“Saya yakin faktor itu mengundang angka gugat cerai di Aceh Utara. Tetapi Istri harus bersabar menghadapi persoalan rumah tangga,” ungkap Cek Mad.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Mahkamah Syariah Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara menerima 1.011 kasus gugat cerai dari Januari hingga Agustus 2021.

Dari jumlah tersebut 880 diantaranya sudah ada putusan. Sementara tahun sebelumnya jumlah kasus gugat cerai di Mahkamah Syariah Lhoksukon berjumlah 1.264 perkara.

Panitera Mahkamah Syariah Lhoksukon, Mawardi, Jumat, 3 September 2021 mengungkapkan, pendaftaran kasus gugat cerai didominasi oleh pihak perempuan (istri).

Manyoritas kasus gugat cerai tersebut disebabkan oleh perselisihan dan pertengkaran terus-menerus dalam rumah tangga dan faktor ekonomi.

“Untuk tahun ini, kami baru memiliki data per Januari-Agustus 2021. Sedangkan bulan September hingga Desember itu nanti dilihat kembali bagaimana update datanya sesuai perkara. Sebagai perbandingan bahwa pada 2020 sebanyak 1.264 perkara yang diputuskan,” jelas Mawardi.

Mawardi menambahkan, yang diterima  pada Januari-Agustus 2021 berjumlah 1.011 perkara, dan diputuskan baru hanya 880 perkara. Sedangkan cerai talak ada 107 perkara dan cerai gugat 373 perkara.

Yang bercerai usianya itu bervariasi, ada pasangan yang masih muda masa pernikahan ataupun pasangan sudah lama.

“Untuk menekankan angka perceraian itu sangat perlu penguatan pendidikan dalam berumah tangga. Terlebih bagi pasangan yang baru melaksanakan ikatan pernikahan tersebut,” ungkap Mawardi.

  • Bagikan