Tabir Pembunuhan Nek Fatimah Terungkap

  • Bagikan

BERITAACEH (Aceh Utara) – Tabir dibalik kematian Nek Fatimah (63), warga Gampong Meunasah Panton Labu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, terungkap. Dugaan pelaku tak lain anak kandung sendiri, sebelum korban dieksekusi, pelaku telah berencana.

Pada Rekonstruksi ulang, yang dilakukan dirumah korban, Polres Aceh Utara mengerahkan 62 personel ke lokasi. Hadir pula pihak dari kejaksaan dan kuasa hukum tersangka. Tersangka NS (43) memperagakan 26 adegan pembunuhan Fatimah (63) tak lain ibu kandung tersangka.

Kisah ini berawal, pada hari Minggu tanggal 31 Mei 2020 lalu, sekira pukul 20.00 wib Tersangka pergi ke rumah korban untuk menyimpan sebilah pisau di bawah pohon pisang yang berada di belakang rumah.

Selajutnya, Senin, 8 Juni 2020 sekira pukul 04.30 wib, tersangka menuju kerumah korban, sampai di depan rumah korban, pelaku menuju ke belakang rumah untuk mengambil pisau yang sebelumnya sudah di simpan selama sepekan lalu.

Kemudian tersangka memanjat dinding dapur rumah korban sambil membawa sebilah, lalu tersangka turun dari dinding dapur dalam rumah. Tersangka mematikan lampu dengan cara mematikan saklar yang ada di tiang rumah korban.

“Pada saat mematikan lampu korban sedang tertidur di kamar dengan pintu tertutup dengan gorden,” kata Kapolres Aceh Utara, AKBP Tri Hadyanto melalui Kasat Reskrim AKP Rustam Nawawi.

Rutam menguraikan, di adengan ke lima,tersangka membangunkan korban dengan cara memanggil dan menggoyangkan kaki korban. Kemudian korban mengambil senter dan mengarahkan ke tersangka sehingga korban melihat tersangka memegang sebilah pisau

“Disitulah tersangka meminta uang kepada korban sambil mengarahkan pisau ke arah korban dan mengancam akan membunuhnya jika tidak di berikan. Korban menanyakan pisau tersebut untuk apa, korban berbalik badan hendak membuka pintu depan rumah. Antara tersangka dan korban sempat negosasi meminta uang pada ke korban,” jelasnya.

Rustam menceritkan, tersangka sempat menarik rambut korban dengan tangan kiri.

Tersangka menikamkan pisau keleher sebelah kanan korban dengan mata pisau mengarah ke depan, tersangka mendorong tubuh korban hingga tersungkur ke tanah dengan posisi terlungkup.

Selanjutnya jelas Rustam, tersangka juga menarik kalung yang melekat di leher korban hingga terputus. Kalung itu di pengang dengan tangan kiri tersangka. Usai melakukan aksi tersangka melemparkan pisau ke arah sudut dinding dapur dengan berlumuran darah. Selanjutnya tersangka keluar melalui dinding dapur yang sama dan menuju ke belakang rumah.

“Usai melakukan aksi tersangka membersihkan tangan dengan daun pisang kering, tak jauh dari lokasi kejadian, tersangka sempat mencuci tangan ke dalam sumur yang ada di dekat pohon pisang,” ungkapnya.

Tambah Rustam, tersangka berlari ke arah belakang rumah korban kemudian menuju ke tanggul Irigasi dan kembali pulang kerumahnya ke Gampong Alue Bili Rayeuk, Kecamatan Baktia, Aceh Utara, dengan berlari-lari kecil.

Pada pukul 06.45 wib tersangka kembali lagi kerumah korban dari jalan depan rumah kemudian mengetuk pintu serta jendela beberapa kali sambil memanggil korban. Namun tersangka kembali masuk ke dalam rumah korban dengan cara memanjat dinding dapur.

“Seketika tersangka berada di dalam rumah, tersangka melihat jasad korban dan menggeser kepala korban untuk menahan pintu dan membuka pengunci pintu depan dari dalam rumah,” jelasnya.
Selain itu, tersangka juga mamanggil saksi Nurhayati dirumah korban, sambil mengetuk dinding rumah. Ibu Nurhayati sedang duduk di rumah, langsung datang kerumah korban dan melihat dari depan pintu depan rumah sudah berdarah.
“Tersangka duduk di ruangan tengah sambil berpura-pura nangis saat melihat jasat korban,” ungkap.

Tak hanya itupun, tersangka kembali mengambil pisau yang telah di letakkan di dapur. Kemudian tersangka keluar dari dinding dapur, menuju ke belakang rumah sambil membawa sebilah pisau di tangan kanan.

“Tersangka memotong daun pisang kering yang ada noda darah dan membuang kebelakang rumah saksi Nurhayati, tersangka sempat duduk di kursi panjang sambil berpura-pura menangis. Kemudian tersangka pergi dari rumah untuk memberi tahukan kepada warga,” paparnya.

Rustam Nawawi didamping KBO Aiptu Dapot Situmorang, menjelaskan, rekontruksi ini digelar bertujuan untuk memudahkan proses penyelidikan.

“Dalam adegan tersebut terungkap dan terbukti, tersangka telah merencanakan melakukan pembunuhan terhadap ibunya. Karena sepekan sebelum korban dibunuh, tersangka sudah menyimpan pisau di belakang rumah ibunya. Dalam kasus ini penyidik sudah meminta keterangan dari 10 saksi. Setelah ini kami akan lengkapi berkas untuk diserahkan ke Jaksa,” terang AKP Rustam.

Sementara Kasi Pidum Kajari Aceh Utara, Yudhi Permana, mengatakan, dari 26 adegan yang diperagakan pelaku terdapat fakta baru yang ditemukan saat rekontruksi berlangsung. Pelaku telah melakukan persiapan seminggu sebelum ibunya dibunuh.

“Ns tersulut emosinya karena tidak diberi uang, dan ibunya menanyakan pisau yang dipegang itu untuk apa. Apa untuk membunuh saya dan memberikan saya surga? Lalu pelaku langsung menarik rambut, dan menghunuskan pisau ke leher ibunya,” pungkasnya.

  • Bagikan