Pamer Alat Vital, Pria di Karawang Bikin Wanita Menjerit, Laki-Laki pun Geregetan

  • Bagikan
Warga membahas pelaku eksibisionis di Gintungkerta, Kecamatan Klari. Foto: diambil dari Radar Karawang

BERITAACEH – Warga RT 22 RW 06 Dusung Gintungsalam, Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang Jawa Barat resah dengan adanya pria pelaku ekshibisionis (gangguan mental yang membuat penderitanya memiliki keinginan atau pemikiran untuk memperlihatkan alat vitalnya kepada orang asing).

Ketua RT 22 Japar mengatakan, kejadian seperti itu sebenarnya pernah terjadi pada 2018 lalu.

“Tahun 2020 ini sudah ada laporan, tiga kali,” katanya seperti dikutip dari Radar Karawang.

Japar mengatakan laporan terakhir kali diterimanya kejadian pada Rabu (17/6) malam sekitar pukul 20.30 WIB.

Saat itu pelaku memamerkan salah satu alat yang sangat penting dalam dirinya itu kepada seorang perempuan pemilik laundry, yang kebetulan saat itu tengah berada di pekarangan rumah.

Pelaku diketahui mengendarai sepeda motor jenis scoopy berwarna merah, dengan pakaian yang rapi dan mengenakan masker.

Japar melanjutkan, berdasarkan beberapa laporan yang dia terima, pelaku cenderung beraksi ketika situasi lingkungan hanya ada perempuan.

Meskipun saat itu banyak orang, tetapi semuanya perempuan, pelaku tetap akan melakukan perilaku menyimpang tersebut.

Diduga pelaku tidak tinggal di lingkungan tersebut karena warga tidak ada yang mengenali ciri-cirinya.

Japar meyakini pelaku bukan orang dengan keterbelakangan mental melainkan secara sadar melakukan aksinya.

“Pakaiannya juga rapi, motornya ganti-ganti, enggak mungkin dong orang gila,” ujar Japar memprediksi sosok pelaku.

Ia menilai aksi pelaku sangat tidak pantas dan meresahkan warganya.

Japar khawatir pelaku melakukan tindakan lebih dari itu saat situasi tertentu.

Dia sendiri geregetan dan ingin menangkap pelaku, tetapi si pelaku selalu berhasil kabur begitu korban yang pada umumnya merupakan wanita, menjerit. Ia berharap warga bisa mengenali ciri-ciri pelaku atau bahkan menangkapnya.

Sementara Dekan Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan (UBP) Cempaka Putrie Dimala menyampaikan, ekshibisionisme merupakan penyimpangan s*****l, di mana pelaku memperlihatkan k******nnya di depan seseorang.

Orientasi perilaku ini bukanlah mengajak korban hubungan badan, melainkan pengin mendapatkan reaksi korban seperti menjerit yang dapat meningkatkan hasrat pelaku.

Hal ini tentunya memberi dampak psikologis kepada korban.

Biasanya korban akan merasa kaget begitu pelaku beraksi dan refleks berteriak.

Dampak selanjutnya kemungkinan korban akan merasa takut untuk melewati lokasi kejadian dan perlu beradaptasi kembali dengan lingkungan tersebut.

“Ketakutan mereka itu lebih kepada takut diapa-apain, pemikiran jauh ke mana-mana takut menjadi korban kekerasan atau hal lainnya,” terangnya.

Menurutnya perilaku ekshibisionisme tidak termasuk kekerasan s*****l, sebab definisi kekerasan s*****l itu sendiri apabila terjadi kekerasan untuk mengajak hubungan badan secara paksa tanpa adanya persetujuan.

Namun pelaku ekshibisionisme hanya memperlihatkan anggota tubuhnya dan mengharapkan reaksi yang memicu hasrat s*****lnya.

“Kalau misalkan memang bisa diketahui pelakunya siapa bisa ditindaklanjuti, diberitahu perilaku tersebut salah, ayo berobat, karena memang pengobatan perilaku ekshibisionis itu perlu rangkaian pengobatan yang panjang untuk penyembuhannya,” tutupnya (JPNN).

  • Bagikan